bentuk bentuk dalam bahasa arab
Dalamlinguistik bahasa Arab, morfologi ini disebut tasrif, yaitu perubahan suatu bentuk (asal) kata menjadi bermacam-macam bentuk untuk mendapatkan makna yang berbeda (baru). Tanpa perubahan bentuk ini, maka yang berbeda tidak akan terbentuk. Jadi secara harfiah kata morfologi berarti 'ilmu mengenai bentuk'. Di dalam kajian linguistik
Tujuankhusus dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris mengenai bentuk- bentuk kesalahan, besar prosentase kesalahan, dan faktor penyebab kesalahan dalam memahami konsep Af'alul Khamsah yang terjadi pada bebrapa maha siswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Negeri Jakarta , JakartaTimur.
Selainkata tersebut, terdapat kata dalam Bahasa Arab yang kian populer, yakni Akhwat yang berarti saudari perempuan. Arti Akhwat dan Penggunaannya dalam Percakapan Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online kata akhwat merupakan bentuk jamak dari saudara perempuan atau juga bisa diartikan teman perempuan.
Tijarahsecara etimologi berasal dari Bahasa Arab at-tijaratu, diambil dari bentuk Masdar (kata dasar) tajara'-tajran-wa 'tijaratan yang artinya berdagang, berniaga, barang dagangan, atau mengenai perdagangan perniagaan. Praktik dan proses tijarah (perdagangan) dalam konteks hukum Islam mengacu pada dua persoalan penting.
Dalamtata bahasa Arab, kalimah fi'il adalah suatu kata yang menyatakan atas perkerjaan atau perbuatan (verba). Sedangkan al-amr (الأمر) merupakan bentuk mashdar dari fi'il amara-ya'muru (أَمَرَ-يَأْمُرُ) yang berarti perintah, suruhan, atau titah. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 67, Allah Swt telah berfirman:
Lieu De Rencontre Dans Le 66. Bentuk-bentuk fi’il dalam bahasa Arab dibahas lengkap dalam ilmu sharaf. Bentuk-bentuk fi’il atau Wazan timbangan adalah rujukan bagi seluruh kata kerja dalam bahasa Arab, yang nantinya untuk setiap bentuk fi’il tersebut memiliki arti dan fungsi masing-masing. Fi’il punya rumus tasrifnya masing-masing pula, jumlah bentuk fi’il atau wazan dalam bahasa Arab lebih kurang berjumlah 35. A. ثلاثي المجرّد Fi’il dengan 3 huruf asli 1. فَعَلَ – يَفْعُلُ Contoh نَصَرَ – يَنْصُرُ Tandanya Huruf ain fi’ilnya berharkat fathah pada fi’il madhi dan berharkat dhummah pada fi’il mudhari’. Fungsinya Muta’addi, Lazim. 2. فَعَلَ – يَفْعِلُ Contohnya ضَرَبَ – يَضْرِبُ Tandanya Huruf ain fi’ilnya berharkat fathah pada fi’il madhi dan berharkat kasrah pada fi’il mudhari’. Fungsinya Muta’addi, Lazim. 3. فَعَلَ – يَفْعَلُ Contohnya فَتَحَ – يَفْتَحُ Tandanya Huruf ain fi’ilnya berharkat fathah pada fi’il madhi dan mudhari’, dengan syarat huruf ain atau lam fi’ilnya mengandung salah satu dari huruf halaq yaitu ح – خ – ع – غ – ه – ء . Fungsinya Muta’addi, Lazim. 4. فَعِلَ – يَفْعَلُ Contohnya عَلِمَ – يَعْلَمُ Tandanya Huruf ain fi’ilnya berharkat kasrah pada fi’il madhi dan berharkat fathah pada fi’il mudhari’. Fungsinya Muta’addi, Lazim. 5. فَعُلَ – يَفْعُلُ Contohnya حَسُنَ – يَحْسُنُ Tandanya Huruf ain fi’ilnya berharkat dhummah pada fi’il madhi dan mudhari’. Fungsinya Lazim. 6. فَعِلَ – يَفْعِلُ Contohnya حَسِبَ – يَحْسِبُ Tandanya Huruf ain fi’ilnya berharkat kasrah pada fi’il madhi juga mudhari’. Fungsinya Muta’addi, Lazim. Note Kunci perubahan bentuk wazan saat ditasrifkan sekaligus yang membedakan antara suatu bentuk fi’il dengan fi’il lainnya terdapat pada huruf ain pada rumus. Muta’addi adalah kata kerja dalam bahasa Arab yang membutuhkan kepada objek. Lazim adalah kata kerja dalam bahasa Arab yang tidak membutuhkan kepada objek. B. ثُلَاثِي مَازِيْدَ بِحَرْفٍ وَاحِدٍ fi’il 3 huruf + 1 huruf 1. اَفْعَلَ – يُفْعِلُ – اِفْعَالًا Contohnya اَكْرَمَ – يُكْرِمُ – اِكْرَامًا Tandanya Fi’il madhinya berjumlah 4 huruf setelah masuk huruf hamzah pada awal fi’ilnya. Fungsinya Muta’addi, Lazim. 2. فَعَّلَ – يُفَعِّلُ – تَفْعِيْلًا Contohnya فَرَّحَ – يُفَرِّحُ – تَفْرِيْحًا Tandanya Fi’il madhinya terdiri dari 4 huruf setelah masuk huruf yang sejenis dengan ain fi’ilnya diantara fa’ fi’il dan ain fi’il. Fungsinya Taktsir Banyak. 3. فَاعَلَ – يُفَاعِلُ – مُفَاعَلَةً Contohnya قَاتَلَ – يُقَاتِلُ – مُقَاتَلَةً Tandanya Fi’il madhinya terdiri dari 4 huruf setelah bertambah huruf alif diantara fa’ fi’il dan ain fi’il. Fungsinya Musyarakah Timbal balik antara dua pelaku. C. ثُلَاثِي مَازِيْدَ بِحَرْفيْنِ Fi’il 3 huruf + 2 huruf 1. إنْفَعَلَ – يَنْفَعِلُ – إنْفِعَالًا Contohnya إِنْكَسَرَ – يَنْكَسِرُ – إِنْكِسَارًا Tandanya Fi’il madhinya berjumlah 5 huruf setelah bertambah huruf hamzah dan nun di awalnya. Fungsinya Muthowa’ah Timbul pengaruh sesuatu yang berkorelasi dari fi’il muta’addi 2. إِفْتَعَلَ – يَفْتَعِلُ – إِفْتِعَالًا Contohnya إِجْتَمَعَ – يَجْتَمِعُ – إِجْتِمَاعًا Tandanya Jumlah huruf pada fi’il madhi berjumlah 5 huruf setelah bertambah huruf hamzah di awal dan huruf ta’ diantara huruf fa’ fi’il dengan ain fi’il. Fungsinya Muthowa’ah 3. إِفْعَلَّ – يَفْعَلُّ – إفْعِلَالًا Contohnya إِحْمَرَّ – يَحْمَرُّ – إِحْمِرَارً Tandanya Jumlah huruf pada fi’il madhi berjumlah 5 huruf setelah bertambah huruf hamzah di awal dan huruf yang sejenis dengan huruf lam fi’ilnya dia akhir. Fungsinya Mubalaghah Lazim, Warna, Cedera. 4. تَفَعَّلَ – يَتَفَعَّلُ – تَفَعُّلًا Contohnya تَكَلَّمَ – يَتَكَلَّمُ – تَكَلُّمًا Tandanya Jumlah huruf pada fi’il madhi berjumlah 5 huruf setelah bertambah huruf ta’ di awal dan huruf yang sejenis dengan huruf ain fi’ilnya diantara huruf fa’ fi’il dan ain fi’il. Fungsinya Takalluf artinya hasil suatu tuntutan setelah sesuatu hal 5. تَفَاعَلَ – يَتَفَاعَلُ – تَفَاعُلًا Contohnya تَبَعَدَ – يَتَبَاعَدُ – تَبَاعُدًا Tandanya Jumlah huruf pada fi’il madhi berjumlah 5 huruf setelah bertambah huruf ta’ di awal fi’il dan huruf alif diantara fa’ fi’il dan ain fi’il. Fungsinya Musyarakah Hubungan timbal balik diantara 2 orang atau lebih. D. ثُلَاثِي مَازِيْدَ بِثَلَاثَةِ أَحْرُفٍ Fi’il 3 huruf + 3 huruf 1. إِسْتَفْعَلَ – يَسْتَفْعِلُ – إِسْتِفْعَالًا Contohnya إِسْتَخْرَجَ – يَسْتَخْرِجُ – إِسْتِخْرَاجًا Tandanya fi’il madhinya berjumlah 6 huruf setelah bertambah huruf hamzah, siin, dan taa’ dia awal. Fungsinya Ta’diyyah, Lazim. 2. إِفْعَوْعَلَ – يَفْعَوْعِلُ – إفْعيْعَلًا Contohnya إِعْشَوْشَبَ – يَعْشَوْشِبُ – إعْشِيْشَابًا Tandanya fi’il madhinya berjumlah 6 huruf setelah bertambah huruf hamzah di awal dan huruf lain yang sejenis dengan huruf ain fi’ilnya serta bertambahnya huruf waw diantara ain fi’il dan lam fi’ilnya. Fungsinya Mubalagah lazim. 3. إِفْعَوَّلَ – يَفْعَوِّلُ – إِفْعِوَّلًا Contohnya إِجْلَوَّذَ – يَجْلَوِّذُ – إِجلِوَّذًا Tandanya fi’il madhinya berjumlah 6 huruf setelah bertambah huruf hamzah di awal, dan 2 huruf waw diantara ain fi’il dan lam fi’il. Fungsinya Mubalaghah lazim. 4. إِفْعَالَّ – يَفْعَالُّ – إِفْعِيْعَالًا Contohnya إِحْماَرَّ – يَحْمَارُّ – إحْمِيْرَارًا Tandanya Fi’il madhinya berjumlah 6 huruf setelah bertambah huruf hamzah di awal, dan huruf alif diantara huruf ain dan lam fi’ilnya serta satu huruf lain yang serupa dengan huruf lam fi’ilnya. Fungsinya Mubalaghah lazim. E. رُبَاعِيْ مُجَرَّد Fi’il 4 Huruf 1. فَعْلَلَ – يُفَعْلِلُ – فَعْلَلَةً Contohnya دَحْرَجَ – يُدَحْرِجُ – دَحْرَجَةً Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 4 huruf asli tidak ada huruf tambahan Fungsinya Ta’diyyah, Lazim. F. مُلْحَقْ بِالرُّبَاعِيْ sejenis dengan دَحْرَجَ 1. فَوْعَلَ – يُفَوْعِلُ – فَوْعَلَةً Contohnya حَوْقَلَ – يُحَوْقِلُ – حَوْقَلَةً Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 4 huruf asli dengan bertambah huruf waw diantara faa’ fi’il dan ain fi’il. Fungsinya Lazim. 2. فَيْعَلَ – يُفَيْعِلُ – فَيْعَلَةً Contohnya بَيْطَرَ – يُبَيْطِرُ – بَيْطَرَةً Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 4 huruf asli dengan bertambah huruf yaa’ diantara faa’ fi’il dan ain fi’il. Fungsinya Ta’diyyah. 3. فَعْوَلَ – يُفَعْوِلُ – فَعْوَلَةً Contohnya جَهْوَرَ – يُجَهْوِرُ – جَهْوَرَةً Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 4 huruf asli setelah bertambah huruf waw diantara ain fi’il dan lam fi’il. Fungsinya Ta’diyyah. 4. فَعْيَلَ – يُفَعْيِلُ – فَعْيَلَةً Contohnya عَثْيَرَ – يُعَثْيِرُ – عَثْيَرَةً Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 4 huruf asli setelah bertambah huruf yaa diantara ain fi’il dan lam fi’il. Fungsinya Lazim. 5. فَعْلَلَ – يُفَعْلِلُ – فَعْلَلَةً Contohnya جَلْبَبَ – يُجَلْبِبُ – جَلْبَبَةً Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 4 huruf asli setelah bertambah satu huruf yang sejenis dengan huruf lam fi’il di akhirnya. Fungsinya Ta’diyyah. 6. فَعْلَى – يُفَعْلِى – فَعْلَيَةً Contohnya سَلْقَى – يُسَلْقِى – سَلْقَيَةً Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 4 huruf asli setelah bertambah huruf yaa di akhirnya. Fungsinya Lazim. G. رُبَاعِيْ مَازيْدَ بِحَرْفٍ وَاحِدٍ Fi’il 4 huruf + 1 Huruf 1. تَفَعْلَلَ – يَتَفَعْلَلُ – تَفَعْلُلًا Contohnya تَدَحْرَجَ – يَتَدَحْرَجُ – تَدَحْرُجًا Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 5 huruf dengan bertambah huruf taa’ di awal. Fungsinya Muthowa’ah. H. رُبَاعِيْ مَازيْدَ بِحَرْفيْنِ Fi’il 4 huruf + 2 huruf 1. إِفْعَنْلَلَ – يَفْعَنْلِلُ – إِفْعِنْلَالًا Contohnya إِخْرَنْجَمَ – يَخْرَنْجِمُ – إِخْرِنْجَامًا Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 6 huruf setelah bertambah huruf hamzah di awal dan huruf nun diantara huruf ain fi’il dan huruf lam pertama. Fungsinya Muthowa’ah. 2. إِفْعَلَلَّ – يَفْعَلِلُّ – إِفْعِلَّالًا Contohnya إِقْشَعَرَّ – يَقْشَعِرُّ – إِقْشِعْرَارًا Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 6 huruf setelah bertambah huruf hamzah di awal dan huruf lain yang serupa dengan huruf lam fi’il yang kedua di akhir. Fungsinya Mubalaghah lazim. I. مُلْحَقْ تَدَحْرَجَ Turunan تَدَحْرَجَ 1. تَفَعْلَلَ – يَتَفَعْلَلُ – تَفَعْلُلًا Contohnya تَجَلْبَبَ – يَتَجَلْبَبُ – تَجَلْبُبًا Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 5 huruf setelah bertambah huruf taa’ di awalnya dan huruf lainnya yang sejenis dengan huruf laam fi’il di akhirnya. Fungsinya Lazim. 2. تَفَوْعَلَ – يَتَفَوْعَلُ – تَفَوْعُلًا Contohnya تَجَوْرَبَ – يَتَجَوْرَبُ – تَجَوْرُبًا Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 5 huruf setelah bertambah huruf taa’ di awal dan huruf waw diantara faa’ fi’il dan ain fi’il. Fungsinya Lazim. 3. تَفَيْعَلَ – يَتَفَيْعَلُ – تَفَيْعُلًا Contohnya تَشَيْطَنَ – يَتَشَيْطَنُ – تَشَيْطُنًا Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 5 huruf setelah bertambah huruf taa’ di awal dan huruf yaa’ diantara huruf faa’ fi’il dan ain fi’il. Fungsinya Lazim. 4. تَفَعْوَلَ – يَتَفَعْوَلُ – تَفَعْوُلًا Contohnya تَرَهْوَكَ – يَتَرَهْوَكُ – تَرَهْوُكً Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 5 huruf setelah bertambah huruf taa’ di awal dan huruf waw diantara huruf ain fi’il dan huruf laam fi’il. Fungsinya Lazim. 5. تَفَعْلَى – يَتَفَعْلَى – تَفَعْلِيًا Contohnya تَسَلْقَى – يَتَسَلْقَى – تَسَلْقِيًا Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 5 huruf setelah bertambah huruf taa’ di awal dan huruf yaa’ di akhir. Fungsinya Lazim. Note Dasar mulhaq yang 5 diatas adalah dengan bertambah huruf selain taa’. Misalkan تَجَلْبَبَ yang menjadi pembeda dengan yang lain adalh penambahan huruf baa’. Karena hakikat ilhaq berada pada huruf di tengah bukan di awal. J. مُلْحَقْ إِحْرَنْجَمَ Turunan dari wazan إِحْرَنْجَمَ 1. إِفْعَنْلَلَ – يَفْعَنْلِلُ – إِفْعِنْلَالًا Contohnya إِقْعَنْسَسَ – يَقْعَنْسِسُ – إِقْعِنْسَاسًا Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 6 huruf setelah bertambah huruf hamzah di awal, dan huruf nun diantara huruf ain fi’il dan laam fi’il, serta huruf lainnya yang sejenis dengan huruf laam fi’il di akhirnya. Fungsinya Mubalaghah Lazim. 2. إِفْعَنْلَى – يَفْعَنْلِى – إِفْعِنْلَاءً Contohnya إِسْلَنْقَى – يَشْلَنْقِى – إسْلِنْقَاءً Tandanya Fi’il madhinya terdiri atas 6 huruf setelah bertambah huruf hamzah di awal, dan huruf nun diantara huruf ain fi’il dan laam fi’il. Fungsinya Lazim. Sumber Kitab Matan Bina’ Wal-asas Imam Abdullah Ad-danqaziy Twitter ghoorib_tweet
Kelurahan Klego merupakan salah satu kelurahan yang berada di Pekalongan Timur, mayoritas penduduknya berasal dari etnis Jawa dan etnis keturunan Arab serta sedikit etnis keturunan Cina. Dalam percakapan kesehariannya mereka mengalami percampuran bahasa antara Arab dan Jawa. Tak jarang orang Arab berbicara bahasa Jawa kadang disisipi dengan bahasa Arab yang khas, demikian juga orang Jawa berbicara bahasa Jawa kadang disisipi dengan bahasa Arab, ini terjadi akibat interaksi sosial diantara mereka. Kekhasan bahasa Arab dari percakapan campur bahasa Arab – Jawa oleh etnis keturunan Arab dan Jawa di masyarakat Klego Pekalongan Timur ini kalau dilihat dari unsur derivasinya, makna leksikalnya serta perbendaharaan kosa katanya sulit ditemukan dalam kamus manapun bahkan dalam bahasa Arab kolokial pasaran pada umumnya sekalipun. Artikel ini dimaksudkan untuk mengungkapkan, menjelaskan dan menganalisis 4 hal berikut 1 Sejarah Proses percampuran linguistik bahasa Arab - Jawa pada masyarakat Klego Pekalongan; 2 Bentuk konvensi bahasa komunikasi Arab - Jawa yang digunakan pada masyarakat Klego Pekalongan; 3 Kesesuaian konvensi bahasa Arab - Jawa dengan kaidah linguistik kaidah derivasi dan makna leksikal; dan 4 Kontribusi konvensi bahasa Arab - Jawa terhadap harmonisasi sosial pada masyarakat Klego Pekalongan. Sumber data penelitian ini didapatkan dari bahasa komunikasi campur Arab – Jawa pada masyarakat Klego Pekalongan Timur serta data-data penunjang lainnya yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan terstruktur disertai dokumentasi terkait dengan kehidupan masyarakat Klego Pekalongan. Teori yang digunakan adalah teori alih kode dan campur kode. Metode pengumpulan datanya menggunakan metode simak dengan teknik sadap, teknik rekam dan teknik catat dan metode cakap dengan teknik pancing, teknik rekam dan teknik catat. Kemudian data diklasifikasi dengan transkripsi ortografis. Sedangkan analisis datanya menggunakan analisis deskriptif fungsional dengan metode kontekstual yaitu pendekatan yang memperhatikan konteks situasi dalam tuturan bahasa campur Arab – Jawa masyarakat Klego Pekalongan Timur. Sejarah konvensi bahasa Arab – Jawa pada masyarakat Klego bermula dari kedatangan Orang Arab Yaman yang pertama kali datang ke wilayah Klego Pekalongan, adalah Habib Hussein Al-Attas, terjadi tahun 1800-an, datang langsung dari Hadramaut - Yaman. Pada mulanya Habib Hussein Al-Attas adalah pedagang yang kemudian menikah dengan penduduk Klego Jawa. Komunitas Arab Yaman di Klego itu terdiri dari 2 komunitas besar, yaitu komunitas Sayyid/Habib/Syaikh kaum Alawiyin atau yang sering menyebutkan sebagai keturunan nabi dengan komunitas Qabil bukan keturunan pada jalur Nabi. Adapun bentuk konvensi bahasa Arab-Jawa di Klego sering dijumpai dalam percakapan mereka, seperti "Koe kok gas’ah pisan oo? kamu kok ganteng sekali ya?". Kata جسعة dalam kamus Arab tidak punya makna apapun. Menurut bahasa Arab fushah dan kolokial, ganteng itu bahasa Arabnya adalah جميل , contoh lain "Wong kae mera`bal banget orang itu brengsek sekali. Kata ”mera’bal”-pun tidak ada padanan maknanya dalam kamus bahasa Arab manapun", kecuali dalam komunitas bahasa Arab kolokial Hadramaut – Yaman yang berasal dari kata مراع فى البال yang punya arti "orang yang tidak punya kesantunan" dalam bahasa Arab fushah, contoh lainnya lagi, "Panganan iki al tenan makanan ini enak sekali". Kata al berasal dari kata عالى yang dalam bahasa leksikalnya mempunyai arti "tinggi" kemudian dinisbahkan pada ucapan kalau memandang makanan yang enak dengan kata al yang mempunyai arti enak, sedangkan kalau menunjuk pada sifat atau karakter seseorang, kata al 2 berarti bagus atau istimewa dan banyak lagi contoh yang lain. Kesesuaian konvensi bahasa Arab-Jawa dalam percakapan komunitas masyarakat Klego dengan kaidah derivasi dan leksikal diantaranya adalah kata sholi ص ل artinya sholatlah merupakan kata kerja imperative atau fiil amar, sugul شغل artinya kerja, merupakan isim masdaar, kul كُ ل artinya makanlah yang merupakan kata kerja imperatif atau fiil amar, requd رقد artinya tidur yang merupakan fiil madhi. Sedangkan konvensi bahasa yang tidak ada kesesuaian dengan kaidah derivasi dan leksikal, diantaranya adalah kata shaftah صفطة artinya bercanda dalam makna kamus atau leksikal tidak ada maknanya, kecuali kalau itu dianggap dari kata hasil ta’rib arabisasi kata Sofis’ bahasa Yunani yang mempunyai arti “orang yang banyak berbicara”, kemudian ada kata hanuh حنوح artinya sombong tetapi dalam makna leksikal tidak ada dan juga tidak ada kaidah derivasinya, kata bisyuf بِشُ و ف artinya saya akan lihat tetapi tidak ada kaidah derivasinya dan makna leksikalnya. Kontribusi konvensi bahasa Arab-Jawa pada masyarakat Klego yang heterogen mempengaruhi terhadap keharmonisan sosial antara komunitas keturunan Arab dan Jawa, tidak ada unsur pemaksan bahasa, budaya dan tradisi diantara mereka. Masing-masing dapat menerima kebudayaannya masing-masing, bahkan bagi keturunan Arab sudah membaur dalam tradisi dan adat istiadat komunitas Jawa, sehingga dalam percakapan mereka tidak akan bisa membedakan mana keturunan Jawa dan keturunan Arab. Di samping itu saling terbukanya sistem perjodohan antara dua etnis yang bersangkutan dengan semakin banyaknya pernikahan antara etnis Arab dengan Jawa, juga sebaliknya, walaupun masih dominasi laki-lakinya Arab dan perempuannya Jawa dan dapat diterimanya komunitas Arab Sayyid/Qabil dalam komunitas mayoritas masyarakat Pekalongan Jawa. Kata Kunci Bahasa Arab – Jawa; Etnis Arab Hadrami – Jawa; Kampung Arab Klego; Alih Kode-Campur Kode
Sunday, 13 December 2015 Bentuk-bentuk dalam Bahasa Arab الأشكال
ArticlePDF Available Abstractp>Verbal noun phrase VNP is a component of the construct phrase or idhāfah. This study aims to describe VNP’s structure and behavior in arabic grammar and show the unique characteristics of VNP among other types of construct phrase. The methodology used in this study is qualitative descriptive. The data containing VNP is collected from several sources The Quran, Prophetic tradition, and online newspaper. The analysis of data is occurred by distributional methode in which bases its performance on analysing each linguistic particular related to other units. The results state that VNP has distinctive form the first term mudhāf is a verbal noun which has neither the definite article nor nunation, and second term is definite or indefinite noun with no prepositional insertion. In order to syntac relation built by VNP the second term is the agent or doer of the action conveid by verbal noun, or the object of an action. bentuk bentuk dalam bahasa arab